Persekusi Ulama, Netral? Hmm Saya Tidak.

 

Kita Manusia berkelindan dengan moral asimetris, perang tafsir tak perlu ditafsirkan apalagi dengan asumsi melotot sampe urat leher ikut nongol sambil menghunus pisau, teriak anjing, percuma luapan energi bernama Demokrasi, Pancasila, NKRI apabila tafsir nya intoleransi.

 

Suatu pagi yang riuh dengan bacaan persekusi Ulama, pun Singa Parlemen turut mengaum dengan 140 karakter tweetnya karena kecewa dengan situasi intoleransi Bangsa saat ini. Berikut beberapa bagian – bagian tweet kekecewaan FahriHamzah :

 

Bagian dari kekecewaan kita kepada pemerintah ini adalah karena ulama moderat seperti #UstadzAbdulSomad seperti dipaksa menjadi radikal dengan membiarkan kelompok radikal menyerangnya tanpa alasan. Lalu mereka dilindungi.

 

#UstadzAbdulSomad adalah jangkar NKRI. Dia mengingatkan kita bahwa di Indonesia ini ada Melayu, Riau dan Kesultanan Siak Indragiri yang masyhur. Tak akan ada NKRI tanpa itu semua. Yang lupa diri atau terprovokasi sadarkan.

 

#UstadzAbdulSomad bukan saja ulama tetapi suara daerah. Alasan untuk menghadirkan beliau di tengah bangsa kita adalah darurat di tengah sekelompok lobby untuk memarginalkan daerah dan juga memarginalkan suara agama yang moderat. Mereka adalah kekuatan adu domba.

 

Sungguh butakah mata hati kalian? Kenapa masih saja ada persekusi atas ulama Kami? Padahal kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh Pasal 28 UUD 1945 dan Pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia.

 

Ulama juga hidup di Dunia sains dimana mati mungkin bisa dimanipulasi lebih lama dikit dan lebih berkualitas biar hidupmu terlihat penting untuk dihargai, Ulama juga sekaligus hidup di Dunia sosial dimana hidup bisa dimanipulasi dengan mengola nyeri biar hidup terlihat penting untuk dihargai melalui empati, Ulama tidak menggabungkan sains dan remeh-temeh hospitality dalam satu bakul, Ulama bukan pekerjaan industri yang menjamu hidupmu biar terlihat penting dan lantas dinamakan servis keagamaan yang ada fee charge nya, Ulama sangat ramah sains, mendorong sains untuk berkembang. Deretan saintis top Dunia adalah Ulama mereka pengguna Akal bukan intoleran apalagi radikal seperti tuduhmu itu.

 

Ulama tidak menjagamu biar tetap nyaman bernafas dalam pesta dunia, “tapi ia membantumu, menuntunmu terlihat normal menyambut sakratul maut dan itu prihal ilmu & kelakuan penuh ketulusan, ia menghargai yang hidup & yang mati tatkala sains/dokter mengalah menyambung nafasmu, ia datang menuntunmu, mendoakan hidupmu, ketika yang mati tak ada yang mengurus lagi, ia datang memandikannya, menyeka bokong tanpa malu, tanpa jijik walaupun ia bukan ahli warisnya.

 

Semua Itu prihal laku ketulusan dan itu bukan sains atau didapat dari drama, sinetron sakit dengan gaya non fiksi atau dari vcd korea bajakan tapi itu semua dari Ilahi, yang terpenting hidup terlihat penting itu dan sekali nyemplung dikolam non-drama itu, ia tenggelam dalam kenikmatan Iman & Islam ditengah riuhnya penyakit dunia, tidakkah itu pekerjaan rumit ? menurutmu ? dengan upah yang tak sedemikian seberapa itu.

 

Mungkin itu “Humanis” ya rumput tetap hidup walaupun diinjak lantas untuk apalagi mengharapkan keramahan? Demi pekerjaan ini ia berikan semua intelektualitas dirinya & sisi humanisnya, akalnya juga tubuhnya karena kenikmatan Iman dan Islam yang hulu & hilirnya kedamaian lantas kalian menghunus sajam ingin membunuhnya?. dengan merawat yang hidup mereka harus tampak mati tak ada emosi disini, mereka mengolah Ruh juga mensholatkan jasad sekaligus membawa pesan Nabi.

 

Kalau mau keramahan kata-kata manis surga minta ke motivator mereka dibayar mahal untuk itu coba tanya ke Pak Mario, jangan paksa ulama kami, jadi argumen kalian Ulama ini itu Intoleran persetan dengan kalian, merawat yang mati saja mereka pamrih, semakin kalian benci Ulama Kami, maka sebaliknya kami semakin Cinta, seperti kata Imam Syafi’i: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkan mu, menjauhi mu dari Keridhoan Allah”. Jelas kan, seperti kata Wittgenstein “Hal yang dapat dijelaskan dapat dijelaskan dengan jernih. Yang tak dapat dijelaskan, sebaiknya anda diam”. Itu jika hidupmu terlalu penting untuk dihargai. ” Ulama hidup bukan untuk dirinya tapi untuk orang lain itu yang terpenting.

 

Leave a Reply