Kita Mau Anies Seperti Jokowi?

 

“Kami berdua komitmen menuntaskan kerja di Jakarta. Itu bahkan muncul dalam pertanyaan di debat kemarin, dan kami jawab dengan jelas, kami akan menuntaskan pekerjaan selama lima tahun dari 2017 hingga 2022,” ujar Anies dalam konferensi pers seusai Rapat Pleno Terbuka Penetapan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih Tahun 2017-2022 di Jakarta, Jumat, (5/5/2017).

 

“Tidak ada tanda tangan kontrak politik untuk tidak maju 2019. Dicari di laci mana pun tidak akan ketemu. Tapi kami komitmen selesaikan kerja di Jakarta,” jelas Anies.

 

Dalam berbagai kesempatan, dulu Jokowi juga demikian mengaku tak akan pernah memikirkan jadi capres. “Copras-capres, copras-capres. Gak mikir. Mikir banjir, mikir macet saja pusing,” ujar Jokowi beberapa waktu lalu kepada wartawan.

 

“Sampai sekarang, saya nggak ngurus copras capres, nggak ngurus. Hua-ha-ha,” ujar Jokowi sembari terkekeh-kekeh alon klakon, seusai meresmikan kantor cabang Bank DKI Jakarta di Jl Ratulangi, Makassar, Jumat (4/10/2013).

 

Namun semua pernyataannya yang selalu diulang-ulang itu ternyata hanya angin lalu atau mungkin bongak. Jokowi mengaku mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menjadi capres. Jokowi pun tanpa tedeng aling-aling langsung menerimanya dan melupakan soal ‘copras-capres’ yang dia ucapkan beberapa waktu yang lalu atau memang sengaja lupa, entahlah.

 

Menceritakan kebohongan ini bisa dibilang sesuatu yang setiap orang lakukan dari waktu ke waktu. Hal ini juga berlaku pada kebohongan “putih” yang dari tampaknya mungkin tidak berbahaya. Kebohongan bahkan bisa dibentuk dengan niat baik, misal pujian untuk menghindari menyakiti perasaan seseorang. Seperti ” Dia itu pekerja keras loh!” jadi taunya kerja, kerja, kerja muka mah ga keurus, kalo ganteng mah kagak! kan pekerja keras.

 

Setiap langkah kebohongan pertama walau relatif kecil dapat berkembang secara bertahap sampai pada jumlah yang besar nilainya hingga nilai yang kecil itu tidak penting lagi, lantas kebohongan itu tidak lagi tampak berbahaya.

 

Manusia sangat intens berbohong tapi lebih sering sukar mempercayai kalau mereka mudah dibohongi. Mari tinjau statistiknya menurut penelitian Belle de Paulo ahli psikologi kebohongan. Kebanyakan orang melakukan kebohongan substantif dalam sehari rata-rata dilakukan sebanyak 1,5 kali, Sementara orang yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi kebohongan orang lain pada saat itu juga hanya sekitar 50% saja, tidak bisa lebih baik lagindari itu, tapi dalam subjek lain penelitiannya De Paulo melaporkan bahwa, rata-rata, 1 dari 7 kebohongan yang orang katakan dapat di ketahui, itupun sejauh pembohong tersebut mengatakannya, dan di bayar dengan harganya.

 

Pada umumnya orang tahu tentang kebohongan pelayanan Lion Air, tapi tetap saja orang-orang membeli kebohongan karena harganya mampu untuk dibeli walaupun pada kenyataannya pelayanannya tidak dapat dipercaya, mungkin kebohongan lion air bisa diterima karena dilengkapi dengan tools seperti sertifikasi ISSA yaitu sebuah standar keselamatan dan keamanan berskala internasional yang diberikan oleh IATA yang diraih pada Januari 2016, Lalu sertifikasi ISO 9001:2015 mengenai delay management, tapi kebohongan seperti ini jika dibiarkan dalam jangka panjang akan menghancurkan industri penerbangan.

 

Dampak kebohongan dapat mengakibatkan mimpi buruk bagi jutaan orang, itu bisa terjadi ketika para pemimpin yang mempraktekkan kebohongan tersebut. Hal ini berdasar oleh fakta bahwa para pemimpin-pemimpin besar dunia telah banyak memberikan pengaruh besar terhadap perilaku orang lain. Apa semua pemimpin itu anti hoax, bercita-cita menjadi suri teladan yang baik untuk mempengaruhi pengikutnya secara positif, seperti pernyataan beberapa pemimpin-pemimpin dunia, sayangnya tidak selalu demikian, kadang sesuatunya tidak selalu berjalan mulus seperti apa yang pemimpin katakan, terkadang untuk mendapatkan proposal yang pemimpin tawarkan dapat diterima, Ia tidak mesti berlaku kewajiban untuk memastikan semuanya harus berjalan dengan cukup akurat. Semisal Lincoln ketika ingin menyelesaikan Perang Saudara Amerika Serikat, ia harus membuat beberapa kebohongan tentang delegasi Selatan agar sesuai dengan apa yang ingin diterima dan didengar oleh orang-orang Selatan. Sama Ketika Obama ingin menjual program layanan kesehatannya, dia mungkin harus sedikit mendistorsi beberapa hal spesifik dari rencana ObamaCare/ perawatan kesehatannya tersebut.

 

“Jika pemimpin berbohong itu berarti ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi, ini serius.” Mungkin kebohongan yang paling terkenal di awal abad ini, adalah pernyataan Presiden George W. Bush ini pada tahun 2003:

“Tahun demi tahun, Saddam Hussein telah berusaha keras untuk menyelesaikan tujuan jangka panjangnya, menghabiskan banyak uang, mengambil risiko besar untuk membangun dan menyimpan senjata pemusnah massal.”

Akibat dari sepenggal kalimat hoax senjata pemusnah massal tersebut atau pernyataan bohong diatas yang berhasil dengan suksesnya dilahap media mentah-mentah karena dianggap mungkin profil presiden bukan penyebar hoax, ia pasti mempunyai bukti mendasar dengan pernyataan tersebut, maka efek dari kebohongan/hoax tersebut tentu sama-sama kita tahu sendiri. Baghdad yang indah dengan kisah 1001 malamnya hancur berkeping, luluh lantak hingga tak bermuka lidahnya keluh hingga tak mampu bercerita 1001 hal indah lagi, yang tertinggal hanya cerita sedih tak bertepi dari sisa-sisa kehancuran perang dan krisis sektarian yang tak berkesudahan.

 

Setiap presiden seharusnya menjadi teladan integritas, Dunia bergantung pada setiap kata-katanya. Dunia harus bisa mempercayainya untuk memahami ke arah mana kekuatan terbesar Dunia akan bergerak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Integritas didefinisikan sebagai mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kejujuran dan kewibawaan, jika dipadu padankan pada diksi nasional maka ia adalah wujud dari keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan bernegara.

 

Berkaitan dengan pentingnya integritas bagi seorang pemimpin, tokoh leadership guru Warren G Bennis seorang pundit influencer kepemimpinan dunia mengungkapkan adanya tiga bentuk integritas. Ketiga bentuk itu adalah: pertama, mawas diri, kedua, tulus dan ketiga, matang.

 

Seorang pemimpin seharusnya sadar diri/mengenali dirinya. “Pemimpin tidak pernah berbohong kepada dirinya sendiri, terutama tentang dirinya sendiri, pemimpin mengetahui asetnya serta kekurangan dirinya, kemudian menanganinya secara langsung.

 

 

“Kita tidak akan dapat merekonstruksi kembali kepercayaan pada institusi sampai para pemimpin kita mempelajari bagaimana berkomunikasi dengan tulus dan menciptakan organisasi di mana ketulusan itu adalah norma ” Warren Bennis.

Kecenderungan pemimpin pada JamanNow adalah memberitahukan kepada pendukungnya hanya apa yang mereka inginkan, tepatnya apa yang dipikirkan dan ingin didengarkan oleh pendukungnya sahaja. Di dalam lingkaran elit mungkin juga demikian, Pemimpin JamanNow dikondisikan untuk berpikir dua kali dalam bersikap jujur mungkin, takut jika bersikap jujur ​​dan terbuka akan ada risiko besar yang ditanggung jika mengekspresikan kebenaran. Biar tidak menyakiti perasaan pendukungnya, ditolak pemodal atau kehilangan prospek pemilih kedepan atau ditinggalkan pemilih setianya. Sementara irisan potongan lainnya dikondisikan untuk menelan kalau pemimpin itu jujur ​​dan tulus, sederhana dengan lugunya bersendal jepit di yacht, hem itu malah akan membuat orang marah, sedih, takut dan nyinyir mungkin.

 

Kita kehilangan sesuatu tanpa tersadari, terutama saat isu nyata seperti busung lapar menyebabkan 61 bayi meregang nyawa itu benar-benar ada di JamanNow, yang sepertinya sulit dikemukakan dan digaungkan media itu adalah kegagalan kepemimpinan JamanNow, padahal disaat tahun politik inilah penting mengungkapkan kebenaran yang mungkin tidak mudah bagi orang lain untuk dengar.

 

Kita tidak pernah melihat sesuatu yang aneh seperti ini pada masa sebelumnya, dimana posisi kepala dan kaki sudah habis di jungkir balikkan dan semuanya dipertanyakan tapi sama sekali tidak ada penyelesaian yang nyata kecuali hutang itu nyata, apa mesti bertanya dalam diam, kemana integritas itu? Pak Anies jangan begitu, tetaplah dijakarta rawatlah integritas itu, peliharalah amanah itu, kawal pengayuh becak itu, bangun dan bagikan rumah dp nol persen itu, gabener JamanOld kalo tinggalin pekerjaan belum selesai, jangan diikuti, janga copras copres dulu sebelum ok oc. Apa kita mau Pak Anies seperti Pakdhe.

Leave a Reply