Bersama Fahri Naik.

 

Dari orang-orang Yunani ke founding fathers sampai ke ilmuwan politik modern, demokrasi telah disalahpahami sebagai latihan rasionalitas. Pemilih digambarkan sebagai individu yang dibebani intelektualitas, seperti melihat masalah dan menimbang kepentingan mereka, karena memiliki kemampuan untuk memahami “kebenaran” dan melihat melalui “distorsi”. Tapi ini sama sekali bukan cara kerja masyarakat.

 

Pemilih tidak memutuskan siapa yang harus dipilih dengan menimbang biaya dan manfaat obyektifnya. Mereka tidak menghitung mesin, tapi emosional manusia dan moral. Mencari sebuah makna untuk memahami kehidupan politik, menyusun naluri besar di mana mereka berada, di mana posisi mereka berada sekarang, dan ke mana mereka akan pergi di masa depan.

 

Kandidat capres adalah tokoh dalam drama sosial ini, menempatkan diri mereka sebagai protagonis heroik dan idealis, Masyarakat yang menilai pertunjukan perubahan bentuk ini, membuat identifikasi, tanpa berhitung. Mereka mendukung karakter yang tampaknya memberi penegasan dan harapan hidup tanpa menjadi deutragonis yang memberi besar peluang protagonis untuk menipu, karena ketidakmampuan mendeteksi & menilai kandidat yang hanya dari tampaknya berbahaya & jahat atau benar-benar jahat & berbahaya.

 

Kandidat yang mengikuti audisi Presiden bertujuan untuk menjadi representasi kolektif, simbol yang mewujudkan kualitas terbaik warga negara dan bangsa. Jika seorang kandidat berhasil melambangkan “Indonesia” dengan baik, izinkan dia untuk menyelenggarakan pemerintaha.

 

Naik saja Fahri

 

Jadi kita kembali ke tempat kita memulai mendaki pasca reformasi, hukum kita gagal mendaki karena tebang pilih pohon di jalur pendakian yang membuatnya jatuh tergelincir, untuk mengatasi ketidakadilan yang kita dihadapi saat-saat ini, maka teruslah berusaha naik, atau setidaknya menahan diri untuk tidak ikut tergelincir jatuh lebih jauh lagi dengan rezim ini.

 

Tapi jika kita tidak bisa melepaskan diri dari cita-cita politik yang aneh seperti pencitraan, maka akan sulit bagimu untuk hanya sekedar berkeinginan untuk naik karena merasa nyaman dibawah, tanpa tahu telah tergelincir, Seperti KPK yang memberi mimpi surga dengan OTT nya itu melenakan kita untuk sekedar berani bermimpi memberi pembanding apakah akan ada yang lebih baik dari KPK dengan OTT nya?

 

Melepaskan diri dari yang kita bayangkan baik memang sulit, dibandingkan dengan idealitas murni, keadilan yang sempurna, status quo pasti selalu terlihat sangat baik, dan barangkali tanpa henti begitu selama berkuasa, memposisikan dirinya sedang naik padahal tanpa mendaki, dan terus menyarankan bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih buruk apabila mereka turun.

 

Itu membawa kita kembali kedalam pilihan moral yang dihadapkan dalam pemilihan presiden nanti, Bagi mereka yang terpesona oleh visi utopia, pilihannya mungkin tampak tidak signifikan. Sekali lagi kita dihadapkan pada pertanyaan: Apa perbedaannya begitu besar antara preman otoriter rasis dan teknokrat imperialis? Apalagi yang layak kita simpan dalam sistem yang dicurangi secara menyeluruh dan benar-benar tidak adil?

 

Tapi sebenarnya sistem kita tidak sepenuhnya benar-benar tidak adil. Dan inilah sifat dari kebenaran yang menjelaskan perbedaan antara preman dan teknokrat, kurang lebih mungkin Bung Fahri representasi kolektif dari fungsi Masyarakat terhadap, beragam, saling toleransi, yang bebas mengamati.

 

Itulah sebabnya kami ingin berhasil mendapatkan ketinggian saat mendaki menuju keadilan yang lebih besar bersama Fahri. kita ingin naik lebih tinggi lagi, dengan mempertahankan keterbukaan yang kita dapatkan nanti. Tetapi kita tidak bisa melakukannya, jika kita gagal mengenali musuh sedari awal yaitu pemimpin yang secara terbuka memusuhi keragaman dan toleransi adalah ancaman serius bagi keterbukaan Masyarakat, dan itu menuntut tanggapan khusus.

 

Dari ketinggian demokrasi yang tinggi, jalur perlawanan paling rendah pasti jatuh. Di jalan setapak di atas gunung kita mendorong batu besar, dan dibutuhkan usaha kolektif monumental untuk menahannya. Kita orang Indonesia memiliki track record yang luar biasa untuk naik terus maju dan pulih disaat tergelincir. Tapi begitu batu itu mulai berputar mundur, tidak mudah untuk dihentikan.

 

Fakta bahwa Presiden saat ini melakukan pembiaran penindasan agama dan konten rasial, dengan perangkat hukum sebagai alat penghina otoriter terhadap toleransi dan batasan konstitusional luas melalui Perppu, itu berarti traksi kita telah tergelincir. Kita sudah bergerak menuruni gunung. Dari perspektif masyarakat terbuka sesuatu yang mengerikan sudah terjadi.

 

Ummat beragama tidak lagi merasakan kebebasan dan kesetaraan, yang semestinya, patutnya kita tidak dapat diganggu atau dianjurkan berhenti untuk merencanakan perjalanan ke surga bersama, & jika kita sudah tidak melihat titik antrean surga dari balik bebatuan, itu berarti sial kita sepertinya terdorong ke neraka, maka kita sudah kehilangan lebih banyak dari yang kita tahu.

 

Pemimpin Vertikal

 

Bukan kebetulan Bung Fahri memiliki beberapa ciri sebagai pemimpin jalur pendakian bangsa yakni Fahri secara konsisten membantu mengubah Indonesia dengan Al-Qur’an Dari sekian banyak ciri saya menyoroti tiga hal yang saya temukan di Fahri:

 

Pertama, Fahri berbagi Passion dengan firman2 Allah SWT walaupun sepenggal ayat, Ia dengan setia mengajar, berdakwah dan membagikannya di akun sosial media nya misal dengan tweet secara kreatif dalam berbagai konteks. Pria ini tidak malu akan kebenaran dan secara efektif menggunakan Al-Qur’an sebagai alat utamanya.

 

Kedua, Fahri berbagi Komitmen untuk menjangkau orang-orang muda dan tua melalui kendaraan tempat ibadah di lingkungan nya, Fahri percaya bahwa tempat ibadah adalah representasi ide zaman now masih relevan bukan “era yang telah berlalu.” Tapi memandang tempat ibadah sebagai instrumen yang ditahbiskan oleh Tuhan untuk membuat perbedaan dalam komunitas.

 

Ketiga, Fahri memiliki Karakter sebagai pria dengan integritas, kata yang dikeluarkan nya adalah ikatan nya. Fahri bertahan melalui kesulitan dan kekecewaan karena FH solid dalam inti keyakinannya. Fahri memberi lebih dari yang ia mau, mendengar lebih banyak yang masyarakat bicarakan, mendoakan lebih banyak dari masyarakat inginkan, dan jalani kehidupan yang layak untuk ditiru.

 

Ujian tentang kehidupan dan karakter religius seorang pria bukanlah apa yang dia lakukan di saat-saat kehidupan yang luar biasa, tapi apa yang dia lakukan di masa-masa biasa.

 

Pemimpin seperti FH itu agen perubahan … Pengubah dunia mereka. Mereka meninggalkan warisan untuk generasi mendatang. Mereka bukan superstar hanya pria biasa yang telah menyerahkan diri kepada Tuhan.

 

Saya termotivasi oleh Fahri. Bagaimana dengan kamu

Leave a Reply